Inspirasi Guru Islamic Village

Guru Sejati Guru Yang Menginspirasi

Menjaga Kesucian Pasca Ramadhan

Ikhwanii rahimakumullah.

Baru saja kita tinggalkan Ramadhan; bulan penuh rahmat, berkah dan ampunan. Rasulullah SAW selalu melepas bulan Ramadhan dengan penuh kesedihan. Seperti tak ingin berpisah dengannya, beliau sujud dan merintih dengan do’a-do’a yang panjang. Derai air mata tiada henti membasahi wajahnya nan mulia. Begitu pula para sahabat, tabi’in, dan salafus-shalih. Mereka biasa melepas bulan mulia ini dengan penuh keharuan. Ali Zainal Abidin As-Sajjad, semoga Allah merahmati dan meridhainya, cicit Rasulullah Saw, selalu menangisi perpisahan dengan Ramadhan. Dengan berurai air mata beliau mengucapkan salam perpisahan pada bulan yang agung ini. Bulan yang menyertainya dalam ketaatan dan pengabdian terindah kepada allah. Bulan yang menaburkan harapan hamba akan limpahan rahmat dan ampunan Allah. Bulan yang di dalamnya orang-orang saleh membersihkan hati dengan air mata taubat dan penyesalan. Simaklah rintihannya,

Selamat jalan,
Wahai bulan yang hari-harinya penuh kebaikan,
Wahai waktu-waktu yang menyertai kami dengan kemuliaan
Wahai bulan ketika harapan di dekatkan dan amal-amal dihamparkan
Wahai sahabat yang kedatangannya membawa kebahagiaan dan kepergiannya meninggalkan kepedihan
Wahai kawan yang membuat hati jadi lembut dan dosa-dosa berguguran
Wahai bulan yang menolong kami melawan setan dan memudahkan kami menapak jalan kebaikan.
Engkau datang membawa keberkahan dan membersihkan kami dari kesalahan
Selamat jalan Ramadhan,
Betapa panjangnya waktumu bagi para pendurhaka
Betapa mulia dan singkatnya waktumu bagi hati orang-orang beriman
Selamat jalan wahai yang dirindukan sebelum kedatangannya,
dan disedihkan sebelum kepergiannya.
Karenamu, banyak kejelekan dipalingkan dari kami
Karenamu pula, banyak kebaikan dilimpahkan kepada kami.

Jamaah yang budiman,

Kita tinggalkan Ramadhan. Bulan yang telah membersihkan jasmani dan menyucikan rohani kita. Mulai hari ini kita semua memikul beban berat untuk mempertahankan kesucian ini. Selama sebulan, Allah yang Maha Melihat, menyaksikan kita bangun di waktu dini hari dan mendengar rintihan istighfar kita. Alangkah malangnya bila setelah hari ini Allah menyaksikan kita tidur lelap bahkan melewati waktu shubuh seperti bangkai tak bergerak. Selama sebulan bibir kita bergetar dalam do’a, zikir dan kalam suci Al-Qur’an. Alangkah celakanya bila bibir yang sama kita gunakan untuk menggunjing, memfitnah, dan mencaci maki saudara-saudara mukmin kita.

Setiap malam, selama sebulan, kita teguhkan langkah kaki kita berjalan ke masjid untuk melaksanakan shalat-shalat sunnah tarawih sampai belasan rakaat. Sungguh zalimya diri kita bila setelah hari ini, bahkan panggilan adzan shalat-shalat fardhu pun kita abaikan, masjid-masjid kita biarkan kosong, dan shalat berjamaah tiada lagi kita tegakkan. Selama sebulan kita melaparkan perut kita dari makanan dan minuman halal di siang hari. Relakah kita bila setelah hari ini kita penuhi perut yang sama dengan makanan dan minuman yang subhat dan haram.

Selama sebulan telah kita kekang hawa nafsu kita, kita kerdilkan ia, kita kuasai dan kita ubah dia menjadi pelayan kita. Maka alangkah bodohnya apabila setelah Idul Fitri ini, kita tempatkan kembali hawa nafsu menjadi raja dan dan kita menjadi jongosnya. Selama sebulan telah susah payah kita bilas dosa kita, telah kita sucikan pikiran dan hati kita… maka sungguh celakanya apabila setelah Idul Fitri ini pikiran dan hati yang  suci itu kita cemplungkan kembali ke dalam jelaga dosa dan kemaksiatan. Hanya kerbau yang tidak punya akal saja yang kembali masuk ke dalam lumpur setelah si gembala bersusah payah membersihkannya. Bukankah Allah sudah menegur kita,

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, (An-Nahl 92)

Dalam hadist, Nabi saw. juga sering mengingatkan sahabat-sahabatnya: laa takun mitsla fulaan, kaana yaquumullaili tsumma taraka (janganlah kamu menjadi seperti fulan, tadinya ia selalu bangun malam, tapi sayang ia kemudian meninggalkannya).

Setelah Idul Fitri ini, kita akan diuji apakah kita termasuk orang yang disebut Al-Qur’an dalam surat Al-A’laa sebagai “man tazakkaa wazakarasma Rabbihii fashallaa.” (mereka yang istiqamah menjaga kesucian dirinya,  selalu mengingat Tuhannya, dan tetap menegakkan shalatnya). Ataukah kita termasuk kelompok kedua, yang tu’tsiruunal hayaatad-dunyaa (dilenakan kembali oleh kehidupan dunia). Apakah setelah Ramadhan berlalu kita tetap sebagai al-mar’aa (rumput yang subur nan hijau) setelah disirami oleh mata air keberkahan Ramadhan. Ataukah rumput yang subur nan hijau itu perlahan layu, kering, mati dan berubah menjadi ghutsaa’an ahwaa (sampah yang hitam dan bau). Setelah hari ini kita akan diuji apakah kita termasuk golongan yang disebut Rasul saw sebagai Ash-Shooim, yakni orang yang puasanya telah merubah dirinya menjadi lebih takwa, lebih syukur, lebih sabar, dan lebih tawadhu. Atau sebaliknya, kita termasuk golongan Al-Jawwaa’, yakni orang yang tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali hanya merasakan lapar dan haus saja. Puasanya tidak memberi perubahan  apapun pada mentalnya, semangat hidupnya, sikap dan perilakunya.

Termasuk golongan manakah kita? Jawabannya akan terlihat setelah Idul Fitri ini! Apabila kita semakin berhati-hati menjaga seluruh anggota badan kita dari kemaksiatan, tetap menjaga perut kita dari semua makanan yang subhat dan haram,  tetap mampu mengendalikan gejolak hawa nafsu dari perbuatan yang dilarang, tetap istiqamah ruku’ dan sujud di ujung malam ketika banyak orang tertidur pulas, tetap menghidupkan hati dengan Al-Qur’an  dan zikir, serta tetap peduli terhadap penderitaan kaum fuqara dan masakin…insya Allah kita termasuk kelompok Ash-Shoo’im. Sebaliknya, bila hati kita kembali dipenuhi purbasangka, iri dengki, dan dendam kesumat terhadap sesama; bila bibir kita kembali mengumbar caci-maki, gosip, dan fitnah; bila perut kita kembali dijejali makanan yang haram dan subhat; bila tangan kita kembali berbuat zalim kepada sesama; dan bila kita miskin empati dan kering kepedulian kepada kaum dhu’afa, maka sudah pasti kita masuk ke dalam kelompok Al-Jawwa’, orang yang melaparkan diri saja. Tidak lebih tidak kurang.

Al-Qur’an menyebut orang-orang yang tidak bisa diperbaiki lagi, bahkan dengan pelatihan Ramadhan sekalipun, sebagai Al-Asyqaa, orang yang celaka.

“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, sedangkan orang-orang yang celaka akan menjauhinya. (yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka). Kemudian Dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri, dan Dia ingat nama Tuhannya, lalu Dia shalat. Tetapi kamu (tetap) memilih kehidupan duniawi.  padahal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam Kitab-Kitab yang dahulu,  (yaitu) Kitab-Kitab Ibrahim dan Musa.” (Al-A’la [87]: 10-19)

Jamaah rahimakumullah,

Agar kita semua tidak masuk ke dalam kelompok Ghutsaa’an ahwaa, Al-Jawwaa’ atau Al-Asyqaa, marilah di hari fitri ini kita semua bertekad untuk meramadhankan hidup kita; mewarnai hari-hari kita dengan nilai-nilai Ramadhan. Menghidupkan nilai-nilai Ramadhan maknanya:

  • Jadikan hati yang bersih sebagai panglima yang memandu anggota badan dan pikiran kita. Jangan biarkan hawa nafsu dan syetan leluasa mengendalikan kita. Tundukkan hawa nafsu dan syetan dengan disiplin beribadah dan membangun kedekatan dengan Allah, Pelindung kita.
  • Jauhi Harta Haram. Selama Ramadhan kita telah berpuasa dari yang halal. Maka tidak ada alasan untuk mengambil yang haram. Harta haram adalah khobaa’is (najis/kotoran) yang akan merusak jaringan tubuh dan otak kita, menumpulkan hati kita, menghancurkan keluarga kita dan menjerumuskan masyarakat kita ke lembah kehinaan.
  • Tetaplah peduli dan berempati kepada kaum dhuafa. Karena kedermawanan (as-sakhawah) akan mengangkat derajat kita ke maqam tertinggi di sisi Allah. Santuni anak yatim, berdayakan kaum fakir miskin, dan belalah orang-orang yang tertindas dan terzhalimi. Insya Allah, Allah akan menjaga dan memuliakan hidup kita.
  • Biasakan belajar dan bekerja keras, tekun, pantang menyerah, penuh disiplin, dan pandai memanfaatkan waktu seefektif dan seproduktif mungkin. Kemajuan Islam hanya bisa diciptakan bila kita semua mau merubah diri menjadi pribadi-pribadi unggul (unggul penampilan, unggul karakter, unggul prestasi). Pribadi-pribadi muslim yang bermental positif (tidak hanya berkeluh kesah), produktif (tidak konsumtif) dan kontributif (tidak menjadi beban).
  • Tetaplah dalam jamaah. Beribadah, bermuamalah, maupun bersiyasah, lakukanlah secara berjamaah. Tidak ada hal yang tidak mungkin diwujudkan bila kita berjamaah. Sebatang lidi akan kesulitan menghela sehelai daun. Tapi seikat sapu lidi akan mampu membersihkan halaman. Umat Islam selalu terpuruk dan termarjinalkan nasibnya karena sulit bersatu hampir dalam segala hal. Sehingga mudah diadu domba dan diceraiberaikan. Padahal dengan berjamaah, bersatu-padu akan membuat kita lebih kuat dan tak terkalahkan.

Semoga Allah SWT memasukkan kita semua ke dalam golongan orang-orang yang takut pada peringatan-Nya, yang selalu memelihara kesucian dirinya, dan selalu memilih kenikmatan akhirat yang lebih baik dan lebih kekal.

Amin ya Rabbal ‘alamin

(sumber: Khutbah Idul Fitri Ana Tahun 1431 H)

Single Post Navigation

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: