Inspirasi Guru Islamic Village

Guru Sejati Guru Yang Menginspirasi

Pendidikan Adalah Proses Memuliakan Manusia

Penulis:  Drs. Rosidin,  Guru Ciri Khas SMA Islamic Village Tangerang Banten

” Pendidikan adalah Proses Memanusiakan Manusia ” Pada dasarnya manusia memiliki Fitrah kemanusiaan yang cenderung kepada hal-hal yang baik dan serba ingin tahu, namun di sisi lain manusia terkadang menjadi beringas, tamak dan rakus melebihi nafsu hewani yang justru bisa merusak unsur unsur kemanusiaan yang ada dalam dirinya sendiri.
Lalu untuk memanusiakan manusia diperlukan usaha yang sungguh sungguh, sistematis dan terprograma, untuk mencapai usaha tersebut yaitu melalui proses pendidikan sebab pendidikan itu pada hakikatnya adalah pembentukan prilaku hidup yang menumbuhkan, memupuk dan membangun fitrah manusia sehingga ia sanggup menjadi manusia yang sebenarnya manusia yaitu minimal bisa hidup mandiri, wajar dan bermanfaat bagi manusia lain ” ANFA’UHUM LIN NAS”

Dalam diri manusia itu terdapat arketipe yang disebut wanderer atau pengelana baik secara fisik maupun intelektual, rasa ingin tahu selalu menggerakan seseorang tidak tinggal diam. Dengan demikian sepanjang sejarah manusia selalu terlibat dalam petualangan intelektual, melakukan trial and eror, walau bersifat coba coba dan salah. Hal tersebut merupkan gambaran jiwa manusia yang selalu mencoba dan menggali hal hal baru dan harus siap menerima kegagalan. Setiap generasai yang lahir meneruskan petualangan intelektual generasi berikutnya, sehingga horizon pengetahuan dan pengalaman manusia selalu melebar dari zaman ke zaman . Proses pelebaran batas pengetahuan inilah yang disebur “research” yaitu menggali dan menggali pengetahuan yang tersembunyi sehingga frontier ( garis perbatasan ) dari khazanah penngetahuan yang terus diraihnya terus melebar. Dalam ilmu, dibedakan antara “frontier” dan “limit” (garis akhir) sehingga dibalik perbatasan ilmu ( frontier ) masih terbentang wilayah riset yang menyimpan ilmu pengetahuan yang belun tergali.

Kesadaran akan perbedaan antara garis perbatasan dan garis batas ini adalah analogi dengan kesadaran bahwa akal manusia terbatas, tetapi tidak tahu persis sampai di mana batas akhir kemampuan akal untuk berpikir dan memproduksi pengetahuan baru. Disisi lain rasa keingin tahuan seseorang bisa dimanfaatkan oleh para pemberi suplay nilai (guru) sehingga bisa memberi dampak dan berpengaruh pada pendidikan anak, dalam hal ini pendidikan agama harus menjadi prioritas utama dalam menentukan alur kehidupan anak didik, namun perlu penulis garis bawahi bahwa penanaman nilai keagamaan kepada anak bukan sekedar memberi pemahaman tentang ibadah ritual saja sementara aplikasi dalam kehidupan sehari hari tidak dilaksanakan sebagaimana yang diharapkan oleh system nilai itu sendiri, sebab agama langit ini benar-benar harus menancap di bumi, yakni hadir dalam hati manusia, sehingga apa yang menjadi tindakan dan prilakunya akan mewarnai kehidupan dirinya dan mewarnai etika serta norma yang berlaku di masyarakat, jika hal ini bisa kita lakukan maka pengaruh pendidikan agama terhadap pendidikan anak benar benar akan terwujud.

Kenapa pendidikan agama dalam hal ini menjadi penting dalam mempola pendidikan anak , jawabannya adalah, hal ini akan menjadi penting, apabila dalam menanamkan pendidikan agama tidak sekedar penanaman nilai ibadah dalam penegertian yang sempit ( hanya ibadah ritual saja ), Bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an yang menerangkan kehidupan social ketimbang tentang ibadah mahdhoh, bahkan dalam referensi apapun termasuk di dalam petunjuk Ilahi bahwa dalam menjalani kehidupan ini diperlukan kecerdasan spritual dan kecerdasan sosial , mari kita lihat kontek ayat di bawah ini , tercantum dalam Al Qur’an Surat Ass Shaff ( 61 ) : 10 – 11
10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Dari pernyataan ayat di atas memberikan gambaran dan pelajaran bagi kita bahwa ternyata Islam adalah agama kehidupan yang sangat membumi, artinya kehidupan ini akan baik tertib dan teratur apabila kita mau diatur oleh ajaran Ilahi yang sangat Universal dan General ” Rahmatan Lil ‘alamin”. Selain itu Islam tidak sekedar mengatur pola peribadatan ritual saja seperti Sholat, Zakat, Puasa dan Hajji saja, akan tetapi Implementasi dari Ibadah ritual tadi sungguh sangat berperan serta dalam mengatur kehidupan bermasyarakat baik yang bersifat pribadi ( Personality ) sampai yang bersentuhan lansung dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. ( Kolektifitas )

Persoalannya sekarang adalah maukah kita memahami dan mengamalkannya. Sementara selama ini sebagaian besar pemahaman terhadap agama presefsinya hanyalah mengatur Ibadah ritual saja, sedangkan esensi dari pelaksanaan dari ibadah ritual harus diimplementasikan terhadap kehidupan sehari hari.

Pemahaman kita selama ini tentang pengertian orang yang sholeh adalah orang yang rajin dalam melaksanakan ibadah ritual saja, seperti sholat zakat puasa dan sebagainya sehingga kita larut dalam ibadah mahdhoh, namun disisi lain ada ibadah social yang yang terabaikan seperti kelaparan, kemiskinan, pengangguran hingga persoalan dunia Internasional.

Oleh karena itu, untuk meluruskan pemahaman tersebut mari kita tanamkan kepada anak didik kita bahwa pendidikan merupakan pembentukan prilaku hidup, maka peranan Pendidikan agama akan sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak apabila paradigma berpikir yang sudah menjadi keyakinan itu sedikit demi sedikit kita perbaiki, disisi lain para praktisi pendidikan dan penyelenggara pendidikan seiring sejalan bersama sama menjadi Qudwah ( Contoh prilaku yang menjadi panutan anak didik ) Selain dari itu karena pendidikan menumbuhkan, memupuk dan membangun Fitrah manusia ( anak didik ) maka peranan Guru harus menjadi motivator dan innovator terhadap anak didiknya, dengan kata lain dramatisasi guru di hadapan anak didik peranannya jangan sampai kalah perannya dengan acara enterteiment di Televisi seperti; INBOX di SCTV, DAHSYAT di RCTI, MANTAP di ANTV dan bahkan yang sedang merajalela di dunia maya adalah FACEBOOK, kesemuanya itu cukup melingkari kehidupan anak didik kita. Hal tersebut di atas sudah barang tentu tidak bisa kita pungkiri dan kita hindari karena memang itu sudah merupakan bagian dari perjalanan dunia dan putaran kehidupan yang terus berjalan dan berputar.
Dengan demikian segera kita sadari bersama bahwa Pendidikan adalah usaha mulia dalam membangun Fitrah kemanusiaan, maka sekali lagi Guru sebagai Pendidik sudah semestinya mengambil perananan yang oftimal dalam memupuk ruh, jiwa akhlak mulia, kesadaran dan kedisiplinan, sehingga Proses Pendidikan dalam Memanusiakan Manusia akan berpengaruh terhadap pendikan anak.

Lalu kenapa ruh yang menjadi bidikan kita dalam mendidik, karena selain ruh berasal dari Allah juga di dalam ruh ada fitrah kemanusiaan yang cenderung suci dan baik, disisi lain ruh memerlukan konsumsi yang sangat sacral yakni pendidikan agama, dengan kata lain seberapa gemerlapnya kehidupan dunia material, betapa majunya dunia teknologi informasi ( IT ), ruh tetap memerlukan makanan dunia kebenaran dan dunia kejujuran, sikap kamuflase,munafik dan oportunis adalah limbah kehidupan imaterial yang tidak diperlukan oleh ruhani kita. Oleh sebab itu di sini ada lorong yang kosong untuk memerankan pendidikan agama dalam proses pendidikan anak baik usia dini maupun usia remaja dan dewasa, pendidikan agama akan menjadi penting apabila kita mampu menangkap dengan cerdas kebutuhan ruhani tadi selama konsumsi keruhanian itu diperlukan dan pasti diperlukan karena energi ruhani bisa digerakan apabila diberi makanan ruh ilahiyah yang teramu dalam pendidikan agama itu sendiri.
Dalam hal ini penulis bukan berarti mengesampingkan arti penting pendidikan di luar pendidikan agama, bahkan sekiranya masih ada dikotomi pendidikan agama dan pendidikan umum mungkin bisa dikatakan paradigma pemikiran yang keliru, karena semua ilmu berasal dari Allah, sekalipun kiranya masih ada pemikiran yang begitu, mungkin yang dimaksud pendidikan umum adalah pelajaran umum yang terangkum dalam pelajaran exact, ilmu ilmu sosial dan sebagainya. Sebenarnya pemikiran kita tidak akan terdikotomi apabila semua pelajaran yang dianggap umum tadi diwarnai dengan nilai nilai Ilahiyah.

PENDIDIKAN ADALAH PROSES MEMANUSIAKAN MANUSIA
Created By : Rosidin, Drs.

Guru Ciri Khas SMA ISLAMIC VILLAGE
TANGERANG – BANTEN

” Pendidikan adalah Proses Memanusiakan Manusia ” Pada dasarnya manusia memiliki Fitrah kemanusiaan yang cenderung kepada hal-hal yang baik dan serba ingin tahu, namun di sisi lain manusia terkadang menjadi beringas, tamak dan rakus melebihi nafsu hewani yang justru bisa merusak unsur unsur kemanusiaan yang ada dalam dirinya sendiri.
Lalu untuk memanusiakan manusia diperlukan usaha yang sungguh sungguh, sistematis dan terprograma, untuk mencapai usaha tersebut yaitu melalui proses pendidikan sebab pendidikan itu pada hakikatnya adalah pembentukan prilaku hidup yang menumbuhkan, memupuk dan membangun fitrah manusia sehingga ia sanggup menjadi manusia yang sebenarnya manusia yaitu minimal bisa hidup mandiri, wajar dan bermanfaat bagi manusia lain ” ANFA’UHUM LIN NAS”

Dalam diri manusia itu terdapat arketipe yang disebut wanderer atau pengelana baik secara fisik maupun intelektual, rasa ingin tahu selalu menggerakan seseorang tidak tinggal diam. Dengan demikian sepanjang sejarah manusia selalu terlibat dalam petualangan intelektual, melakukan trial and eror, walau bersifat coba coba dan salah. Hal tersebut merupkan gambaran jiwa manusia yang selalu mencoba dan menggali hal hal baru dan harus siap menerima kegagalan. Setiap generasai yang lahir meneruskan petualangan intelektual generasi berikutnya, sehingga horizon pengetahuan dan pengalaman manusia selalu melebar dari zaman ke zaman . Proses pelebaran batas pengetahuan inilah yang disebur “research” yaitu menggali dan menggali pengetahuan yang tersembunyi sehingga frontier ( garis perbatasan ) dari khazanah penngetahuan yang terus diraihnya terus melebar. Dalam ilmu, dibedakan antara “frontier” dan “limit” (garis akhir) sehingga dibalik perbatasan ilmu ( frontier ) masih terbentang wilayah riset yang menyimpan ilmu pengetahuan yang belun tergali.

Kesadaran akan perbedaan antara garis perbatasan dan garis batas ini adalah analogi dengan kesadaran bahwa akal manusia terbatas, tetapi tidak tahu persis sampai di mana batas akhir kemampuan akal untuk berpikir dan memproduksi pengetahuan baru. Disisi lain rasa keingin tahuan seseorang bisa dimanfaatkan oleh para pemberi suplay nilai (guru) sehingga bisa memberi dampak dan berpengaruh pada pendidikan anak, dalam hal ini pendidikan agama harus menjadi prioritas utama dalam menentukan alur kehidupan anak didik, namun perlu penulis garis bawahi bahwa penanaman nilai keagamaan kepada anak bukan sekedar memberi pemahaman tentang ibadah ritual saja sementara aplikasi dalam kehidupan sehari hari tidak dilaksanakan sebagaimana yang diharapkan oleh system nilai itu sendiri, sebab agama langit ini benar-benar harus menancap di bumi, yakni hadir dalam hati manusia, sehingga apa yang menjadi tindakan dan prilakunya akan mewarnai kehidupan dirinya dan mewarnai etika serta norma yang berlaku di masyarakat, jika hal ini bisa kita lakukan maka pengaruh pendidikan agama terhadap pendidikan anak benar benar akan terwujud.

Kenapa pendidikan agama dalam hal ini menjadi penting dalam mempola pendidikan anak , jawabannya adalah, hal ini akan menjadi penting, apabila dalam menanamkan pendidikan agama tidak sekedar penanaman nilai ibadah dalam penegertian yang sempit ( hanya ibadah ritual saja ), Bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an yang menerangkan kehidupan social ketimbang tentang ibadah mahdhoh, bahkan dalam referensi apapun termasuk di dalam petunjuk Ilahi bahwa dalam menjalani kehidupan ini diperlukan kecerdasan spritual dan kecerdasan sosial , mari kita lihat kontek ayat di bawah ini , tercantum dalam Al Qur’an Surat Ass Shaff ( 61 ) : 10 – 11
10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Dari pernyataan ayat di atas memberikan gambaran dan pelajaran bagi kita bahwa ternyata Islam adalah agama kehidupan yang sangat membumi, artinya kehidupan ini akan baik tertib dan teratur apabila kita mau diatur oleh ajaran Ilahi yang sangat Universal dan General ” Rahmatan Lil ‘alamin”. Selain itu Islam tidak sekedar mengatur pola peribadatan ritual saja seperti Sholat, Zakat, Puasa dan Hajji saja, akan tetapi Implementasi dari Ibadah ritual tadi sungguh sangat berperan serta dalam mengatur kehidupan bermasyarakat baik yang bersifat pribadi ( Personality ) sampai yang bersentuhan lansung dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. ( Kolektifitas )

Persoalannya sekarang adalah maukah kita memahami dan mengamalkannya. Sementara selama ini sebagaian besar pemahaman terhadap agama presefsinya hanyalah mengatur Ibadah ritual saja, sedangkan esensi dari pelaksanaan dari ibadah ritual harus diimplementasikan terhadap kehidupan sehari hari.

Pemahaman kita selama ini tentang pengertian orang yang sholeh adalah orang yang rajin dalam melaksanakan ibadah ritual saja, seperti sholat zakat puasa dan sebagainya sehingga kita larut dalam ibadah mahdhoh, namun disisi lain ada ibadah social yang yang terabaikan seperti kelaparan, kemiskinan, pengangguran hingga persoalan dunia Internasional.

Oleh karena itu, untuk meluruskan pemahaman tersebut mari kita tanamkan kepada anak didik kita bahwa pendidikan merupakan pembentukan prilaku hidup, maka peranan Pendidikan agama akan sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak apabila paradigma berpikir yang sudah menjadi keyakinan itu sedikit demi sedikit kita perbaiki, disisi lain para praktisi pendidikan dan penyelenggara pendidikan seiring sejalan bersama sama menjadi Qudwah ( Contoh prilaku yang menjadi panutan anak didik ) Selain dari itu karena pendidikan menumbuhkan, memupuk dan membangun Fitrah manusia ( anak didik ) maka peranan Guru harus menjadi motivator dan innovator terhadap anak didiknya, dengan kata lain dramatisasi guru di hadapan anak didik peranannya jangan sampai kalah perannya dengan acara enterteiment di Televisi seperti; INBOX di SCTV, DAHSYAT di RCTI, MANTAP di ANTV dan bahkan yang sedang merajalela di dunia maya adalah FACEBOOK, kesemuanya itu cukup melingkari kehidupan anak didik kita. Hal tersebut di atas sudah barang tentu tidak bisa kita pungkiri dan kita hindari karena memang itu sudah merupakan bagian dari perjalanan dunia dan putaran kehidupan yang terus berjalan dan berputar.
Dengan demikian segera kita sadari bersama bahwa Pendidikan adalah usaha mulia dalam membangun Fitrah kemanusiaan, maka sekali lagi Guru sebagai Pendidik sudah semestinya mengambil perananan yang oftimal dalam memupuk ruh, jiwa akhlak mulia, kesadaran dan kedisiplinan, sehingga Proses Pendidikan dalam Memanusiakan Manusia akan berpengaruh terhadap pendikan anak.

Lalu kenapa ruh yang menjadi bidikan kita dalam mendidik, karena selain ruh berasal dari Allah juga di dalam ruh ada fitrah kemanusiaan yang cenderung suci dan baik, disisi lain ruh memerlukan konsumsi yang sangat sacral yakni pendidikan agama, dengan kata lain seberapa gemerlapnya kehidupan dunia material, betapa majunya dunia teknologi informasi ( IT ), ruh tetap memerlukan makanan dunia kebenaran dan dunia kejujuran, sikap kamuflase,munafik dan oportunis adalah limbah kehidupan imaterial yang tidak diperlukan oleh ruhani kita. Oleh sebab itu di sini ada lorong yang kosong untuk memerankan pendidikan agama dalam proses pendidikan anak baik usia dini maupun usia remaja dan dewasa, pendidikan agama akan menjadi penting apabila kita mampu menangkap dengan cerdas kebutuhan ruhani tadi selama konsumsi keruhanian itu diperlukan dan pasti diperlukan karena energi ruhani bisa digerakan apabila diberi makanan ruh ilahiyah yang teramu dalam pendidikan agama itu sendiri.
Dalam hal ini penulis bukan berarti mengesampingkan arti penting pendidikan di luar pendidikan agama, bahkan sekiranya masih ada dikotomi pendidikan agama dan pendidikan umum mungkin bisa dikatakan paradigma pemikiran yang keliru, karena semua ilmu berasal dari Allah, sekalipun kiranya masih ada pemikiran yang begitu, mungkin yang dimaksud pendidikan umum adalah pelajaran umum yang terangkum dalam pelajaran exact, ilmu ilmu sosial dan sebagainya. Sebenarnya pemikiran kita tidak akan terdikotomi apabila semua pelajaran yang dianggap umum tadi diwarnai dengan nilai nilai Ilahiyah.

Single Post Navigation

4 thoughts on “Pendidikan Adalah Proses Memuliakan Manusia

  1. Kok di edit yach judulnya, tapi ga apa2 dech yang penting horornya, eh salah honornya, he..he..he

  2. Beda Wajah Dan Pantat
    Ketika kita sujud dalam salat-posisi dahi dan wajah kita berada paling rendah, sedangkan yg paling tinggi justru pantat-maka kita membaca”Subhana rabbi al-a’la wabihamdih” (Mahasuci Allah yg Mahatinggi)
    Bacaan tersebut,dalam kaidah bahasa Arab menunjukan pada bentuk tunggal (single): aku (ana).Artinya,Allah SWT mengajarkan kepada umat Islam untuk mengakui kerendahan dirinya di hadapan sang Khaliq.
    Pada posisi seperti itu, seolah-olah “si aku”(ego) mengatakan,
    “Ya Tuhan, aku merendahkan diriku di hadapan-Mu
    dengan serendah-rendahnya.
    Wajahku yg mestinya aku muliakan ini sekarang telah kuletakan di tanah kerendahan karena demi memuliakan Engkau. Aku juga menyadari dalam
    posisi sujud seperti ini, keadaanku tak ubahnya seperti binatang, bahkan lebih rendah lagi.
    Maka bagaimana mungkin aku akan berani melanggar perintah Mu
    yang agung dalam kehidupan ini……….”
    Wajah,Dengan demikian,merupakan indentitas kita sebagai manusia.
    Wajah mewakili diri manusia secara keseluruhan.
    Wajah, dalam berbagai fenomena, selalu menjadi perhatian utama.
    Wajah,tentu saja,ada yg terlihat cerah,gembira,dan senang;
    sebaliknya ada juga yg terlihat murung, sedih, beban, dan lesu.
    Bisa jadi, dengan melihat goyangan pantat di TV,malah lebih bagus
    ketimbang melihat wajah-wajah para koruptor yg menggerogoti
    uang negara miliaran hingga triliunan rupiah.
    Bisa jadi,melihat goyangan yg semi porno itu lebih
    menghibur daripada menyaksikan “pertengkaran” elite-elite yg
    sering kebablasan itu daripada yang kamu flase-kamuflase,yg seolah-olah..
    Jadi, melihat goyangan-goyangan yg lain lebih asyik dan enjoy
    daripada mikirin jumlah hutang pemerintah Indonesia yg makin
    mengelumbung memenuhi angkasa raya ini.
    Tapi biarlah, yg suka melihat pantat ya monggo-monggo saja,
    tetapi yg lebih suka melihat wajah-wajah orang terhormat di republik ini
    ya please-please aja! Bangsa kita kan baru saja merayakan
    Hari Kemerdekaan RI yang ke 62, jadi semuanya juga bisa melakukan sesuai dengan kehendaknya dgn merdeka pula.
    Merdeka dalam melampiskan hawa nafsunya, mengumbar keinginannya,
    menuruti bisikan-bisikan jahatnya dlm hati, serta melanggengkan sifat-sifat buruk dan penyakit-penyakit hatinya.
    Mudah-mudahan kita masih ingat terhadap kebesaran kepemimpinan dan kewara’an Sayyidina Ali yg mendapat gelar “Karamallah wa’jhah”(Allah yg memuliakan wajahnya.).
    Ketika ia sudah berhasil menaklukkan musuhnya dan tinggal memenggal lehernya saja, tiba-tiba musuhnya tadi meludahi wajah Ali yg mulia, sehingga batallah Ali menebas leher musuhnya itu dengan pedangnya.
    Jika Ali melakukannya, bukankah hal yg demikian karena emosinya,
    bukan karena Allah, sebagaimana niat di awal? tetapi,
    ada hikmah yg baik dibalik peristiwa itu, yakni orang tadi akhirnya memeluk agama Islam di hadapan Ali.
    Barang kali kita juga pernah atau terlintas memikirkan ketika kita
    sedang(maaf) kentut, padahal kita masih punya wudu(suci).
    Ternyata, setelah batal, bukan pantat kita yg dibersihkan, melaikan membasuh wajah dengan wudu lagi.
    Ya, wajah memang mewakili diri kita secara komprehensif.
    Bahkan, kalau kita (maaf) kentut atau buang angi sedikit keras di antara orang banyak, yg kita tutupi atau sembunyikan bukan jalannya kentut(pantat), melaikan wajah kita karena malu tempatnya di wajah, bukan di pantat.

  3. Satuju dah. Mantap. tapi kalau minta honor (walau cuma bercanda), ga jadi………..mulia. he..he..he.

  4. Dalam Blog ini semua yang menulis dilarang minta Honor krn akan melanggar HAM ( Hak Ampow Many )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: