Inspirasi Guru Islamic Village

Guru Sejati Guru Yang Menginspirasi

Pendidikan Model Ibrahim a.s.

Oleh H. Saifuddin

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. karena atas izin dan kasih sayang-Nya, kita kembali hadir di tempat ini. Rasanya baru kemarin kita berkumpul di sini merayakan Idul Adha sebagai hari kemenangan melawan nafsu. Hari ini kita berkumpul lagi dalam perayaan Iedul Adha sebagai simbol persatuan kaum Muslimin. Satu milyar lebih kaum muslimin saat ini sedang merajut kebersamaan dengan ikatan aqidah yang kokoh. Jarak yang jauh, suku, bangsa dan bahasa yang berbeda, kini menyatu dalam sebuah ritual besar, yaitu hari raya Iedul Adha.

Suara takbir, tahmid dan tahlil yang menggema ke angkasa sejak terbenam matahari kemarin, hingga selesainya hari tasyrik tanggal 13 dzulhijjah adalah proklamasi persatuan umat Islam sedunia. Kita menyaksikan betapa indahnya kebersamaan kaum Muslimin mendatangi shalat ied, dan betapa kuatnya pertautan hati mereka dalam ruku’ dan sujud di hadapan sang Khaliqnya. Prosesi ini bernilai sakral dan berimplikasi nyata dalam membangun kekuatan umat Islam.

Suasana yang sama hari ini, juga dirasakan jutaan kaum muslimin yang sedang menunaikan ibadah haji di Baitullah. Mereka datang dari seluruh penjuru dunia dengan niat dan tekad yang sama, mencapai haji yang mabrur. Prosesi ibadah haji ini, di samping bermakna ritual pelaksanaan rukun Islam, juga menjadi simbol persatuan umat Islam. Hari ini, tanpa dikamando siapa pun kecuali komando dari Allah, mereka bergerak bersama, dalam pakaian yang sama menyuarakan kalimat yang sama, menuju tempat yang sama, dan melakukan hal yang sama; melempar jumrah, thawaf ifadhah, sa’i dan bertahallul.

Semoga makna persatuan dari perayaan hari raya Idul Adha hari ini, menjadi spirit bersama dalam menyatukan potensi umat Islam. Saatnya kita sadar, bahwa kekuatan Islam hanya bisa lahir dengan persatuan dan kebersamaan. Saatnya kita akhiri pertentangan yang menjerumuskan umat kita sendiri. Hari ini kita bangkit dan kibarkan panji persatuan umat Islam sedunia.

Di tengah kebersamaan merayakan Iedul Adha ini, kita sejenak  mengenang keteladanan Nabiyullah Ibrahim a.s. dan Siti Hajar a.s. dalam mendidik dan melahirkan seorang generasi teladan bernama Ismail. Pola pendidikan yang mereka terapkan terbukti telah melahirkan seorang generasi berkualitas, dengan predikat nabi. Kualitas keshalehan, keta’atan, kesabaran, dan keberanian berkorban Ismail diabadikan Allah SWT dalam al-Qur’an dan sejarah hidupnya menjadi napak tilas pelaksanaan ibadah haji dan ibadah qurban sampai hari ini.

Menyaksikan keagungan sikap yang diperlihatkan Ismail, membuat kita  bertanya, pola pendidikan seperti apa yang dilakukan oleh Ibrahim dan Siti Hajar sehingga melahirkan anak dengan pribadi yang luar biasa?  Al-Qur’an memberi  gambaran dengan tahapan yang sitematis dan detail.

Visi, Misi, Kurikulum dan Lingkungan Pendidikan

Pertama, sejak semula visi pendidikan Ibrahim adalah mencetak generasi shaleh; generasi yang hanya tunduk menyembah kepada Allah SWT. Dalam penantian panjang, lebih dari dua puluh tahun, beliau berdo’a agar diberi anak yang shaleh yang dapat melanjutkan perjuangan agama tauhid. Visi ini diabadikan Allah SWT dalam al-Qur’an:

 “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (Q.S. Ash Shaaffaat : 100).

Ibrahim sangat konsisten dengan visi ini. Ia tidak pernah terpengaruh oleh predikat, title dan gelar lain selain keshalehan. Dalam mentransfer ilmu dan nilai-nilai moral kepada anaknya, Ibrahim selalu memegang teguh prinsip Maata’buduuna min ba’dii  bukan Maata’kuluuna min ba’dii. “Nak, apa yang akan kau sembah sepeninggalku?” bukan pertanyaan “Apa yang akan kamu makan sepeninggalku?” Ibrahim tidak terlalu khawatir akan nasib “mulut dan perut” anaknya tapi Ibrahim sangat khawatir nasib “iman dan tauhid” mereka. Takut anaknya nanti menyembah tuhan selain Allah SWT.

Kedua, misi pendidikan Ibrahim adalah membentuk anak-anaknya menjadi muslim yang sejati. Taat dan setia kepada ajaran Islam sampai mati. Keta’atan ini dimaksudkan sebagai sebuah proteksi terpadu, yang menjaga Ismail agar tidak disesatkan oleh ajaran yang memuja berhala dan hawa nafsu yang telah mapan di sekitarnya. Allah SWT menjelaskan harapan Ibrahim dengan sebuah do’anya:

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Q.S. Al Baqarah : 132)

Ketiga, kurikulum pendidikan Ibrahim juga sangat lengkap. Muatannya telah menyentuh kebutuhan dasar manusia. Aspek yang dikembangkan meliputi: Tilawah untuk pencerahan intelektual, Tazkiyah untuk penguatan spiritual dan penyucian hati, Talim untuk pengembangan keilmuan, wawasan dan keterampilan dan Hikmah/kearifan sebagai panduan operasional dalam amal-amal kebajikan. Muatan-muatan kurikulum dari pendidikan model Ibrahim tersebut, terpampang jelas dan terperinci dalam doa Nabi Ibrahim yang diabadikan Allah dalam firman-Nya:

 “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Baqarah : 129)

Keempat lingkungan pendidikan Ibrahim untuk putranya bersih dari virus yang merusak aqidah dan akhlaq. Ismail secara sengaja dijauhkan dari berhala dunia, fikiran sesat, budaya jahiliyah dan prilaku sosial yang tercela. Hal ini dipilih agar fikiran dan jiwanya terhindar  dari kebiasaan buruk di sekitarnya.

Selain jauh dari perilaku yang tercela, tempat pendidikan Ismail juga dirancang menjadi satu kesatuan dengan pusat ibadah, yakni ‘Baitullah’. Hal ini dipilih agar Ismail tumbuh dalam suasana spritual, dekat kepada Allah melalui ibadah (shalat). Diharapkan pula shalatnya itu membentuk pribadinya yang mulia sehingga disenangi dan dicintai oleh sesama. Sebuah lingkungan yang merangsang tumbuh kembangnya iman, ilmu, akhlak dan amal sholeh. Pemilihan tempat (bi’ah) yang strategis untuk pendidikan Ismail ini tergambar dari do’a Nabi Ibrahim yang lain  yang diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.”   (Q.S. Ibrahim  37)

Subhanallah. Model dan strategi pendidikan yang dilakukan Nabiullah Ibrahim memang patut dicontoh. Beliaulah satu-satunya nabi yang berhasil mengantar dua anaknya menjadi nabi. Dan dari dua anaknya itu muncul pula para nabi. Ishaq melahirkan nabi-nabi dari kalangan Bani Israil. Sedangkan dari garis keturunan Ismail lahir nabi akhir zaman, yaitu Rasulullah Muhammad SAW. Luar biasa !

Lalu, mari kita lihat hasil pendidikan kita? Faktanya, kualitas pendidikan  anak-anak kita hari ini sangat jauh dari yang kita harapkan. Padahal anak-anak sudah kita sekolahkan mulai jam tujuh sampai jam tiga sore. Konon kurikulumnya pun super lengkap. Malah ada sekolah yang menambahkannya dengan kurikulum dari luar negeri semacam Amerika, Inggris, Australia, Singapura atau Mesir dan negeri Timur tengah lainnya. Guru-gurunya minimal S1. Untuk yang berstandar Internasional malah S2 dan para sarjana produk luar negeri! Buku-buku panduan, alat, sarana, dan metode pendidikan pun konon super canggih. Bahkan, tidak cukup belajar di sekolah, anak-anak kita juga kita kursuskan. Masih belum cukup, kita undang guru ke rumah untuk les privat.

Tapi, apa hasil dari semua itu? Anak-anak kita memang semakin pintar. Tapi hidupnya semakin jauh dari nilai-nilai ketuhanan. Hidup anak-anak kita  semakin kehilangan orientasi dan arah yang benar. Jiwanya  semakin rapuh, lemah, gampang menyerah dan putus asa.  Identitas ke-Islamannya pun begitu mudah tergerus nilai-nilai dan budaya asing yang merusak hati dan pikiran mereka. Anak-anak kita pun kemudian terjerumus ke dalam dekadensi dan kerusakan moral yang luar biasa memprihatinkan.

  1. Mereka tenggelam dalam hedonisme dan gaya hidup hura-hura, seperti gila-pesta, musik sampai mati, dugem, kontes Idol dan sejenisnya, genk motor, tawuran, menghabiskan waktu di playstation dan game-online, kecanduan miras dan narkoba (32% dari total 3,2 juta pengguna narkoba dan obat terlarang secara nasional adalah pelajar dan mahasiswa, BNN 2007)

  2. Mereka larut dalam Gerakan Syahwat Merdeka

  • 97% remaja SMP dan SMA pernah melihat film porno

  • 93,7 % pernah berciuman dan bercumbu

  • 62,7 % remaja SMP sudah tidak perawan

  • 21,2 % remaja SMA pernah aborsi , karena hamil di luar nikah.

(Survei Komnas Anak tahun 2010 di 12 Provinsi dengan
responden 4500 remaja
)

Tidak ada kata terlambat, sekarang kita harus bangkit menyelamatkan mereka. Hal paling perioritas yang harus kita lakukan saat ini adalah menciptakan lingkungan (bi’ah) yang yang baik; yang kondusif untuk menumbuh-kembangkan nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai moral ke dalam hati dan jiwa anak-anak kita. Lingkungan yang bebas dan bersih dari virus yang merusak aqidah dan akhlaq mereka.

Unit lingkungan yang terkecil yang harus kita benahi adalah lingkungan keluarga. Jika di dalam rumah tangga kita hidup ruh dan nilai-nilai Islam, lewat contoh dan perilaku para orang tua, insya Allah anak-anak kita akan memiliki landasan yang kuat dalam pertumbuhan spiritual dan moralnya ke depan.  Akan lebih hebat lagi, jika kita para orang tua yang peduli dengan nasib dan masa depat anak-anaknya itu berhimpun bersama-sama dengan para guru dan tokoh masyarakat menciptakan lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat yang baik bagi tumbuh kembang anak-anak kita.

 Apa yang harus dilakukan? Contohlah Nabi Ibrahim! Beliau meletakkan anak beserta ibunya di sebuah tempat yang kering dan tandus dekat Rumah Allah yang suci. Lingkungan yang kering dan tandus bisa kita maknai sebagai lingkungan dengan tata aturan, nilai dan disiplin moral yang tegas. Lingkungan merangsangkemandirian dan tumbuhnya tanggung jawab anak sejak dini.   Dekat rumah Allah yang suci kita maknai sebagai lingkungan yang kental dengan nilai-nilai spiritual.  Jadi mulailah dengan :

  1. Membangun lingkungan religius yang menyuburkan iman dan amal sholeh,

  2. Membiasakan anak hidup dengan disiplin dan aturan moral/akhlak Islami yang tegas,

  3. Membekali mereka skill/keterampilan untuk hidup mandiri dan bertanggung jawab terhadap hidup dan masa depannya

(Disarikan dari Khutbah Idul Adha 1433 H)

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: